ArtScience on ScreenArtScience on Screen

ARTSCIENCE ON SCREEN


ArtScience on Screen  mengeksplorasi persimpangan antara seni dan sains lewat gambar bergerak, video, dan film. Secara bergiliran, ArtScience on Screen akan menampilkan sejumlah pembuat film dan seniman hebat dari Singapura dan negara lain, pada berbagai tahapan karier mereka masing-masing.  

Presentasi akan meliputi pertunjukan tunggal seniman-seniman yang menampilkan karya gambar bergerak, program kurasi film yang mengeksplorasi tema seni dan sains, pemutaran film feature, presentasi multilayar dan dokumenter kreatif yang memperkenalkan praktisi dan metode utama di lapangan.

ArtScience on Screen menjadi tulang punggung pemrograman film khusus museum ini, dan merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Marina Bay Sands terhadap budaya dan komunitas film lokal serta internasional. Selain pemutaran film, Lantai 4 ArtScience Museum juga akan menjadi tuan rumah konferensi pers reguler, sesi dialog, dan kelas pakar bersama pembuat film dan seniman ternama, yang bertujuan untuk menginspirasi penonton untuk menemukan seni dan sains dalam film dan gambar bergerak.


Sekarang Tayang
 

ArtScience on Screen: Air

ArtScience on Screen: Water 

Tanggal/Waktu: Sedang Berlangsung
Jam TayangKlik untuk melihat
Tempat: Expression Gallery, Lantai 4

Sebagai sumber semua kehidupan, air sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Namun, di saat yang sama, air juga memiliki kekuatan merusak dan menghancurkan. Air merupakan subjek mimpi, fantasi, dan ritual keagamaan, dan sering digunakan sebagai metafora untuk hubungan yang emosional nan rumit dalam kesusastraan dan film. 7 film naratif utama berdurasi panjang, Water, meliput tema luas, misalnya, perubahan iklim, konservasi laut, warisan budaya, kenangan, permainan, romansa, dan kematian.

Menampilkan artis dan pembuat film terkenal di seantero Asia Tenggara, seperti Sherman Ong, Apichatpong Weerasethakul, Woo Ming Jin, Charliebebs Gohetia, Nghiem-Minh Nguyen-Vo, dan Kamila Andini, Water mencakup wilayah perspektif luas dan narasi yang sangat mendalam. Dalam film karya Ong berjudul Flooding in the Time of Drought, air digunakan sebagai metafora untuk pasang surut pergerakan pekerja asing dan tak tetap di Singapura. Sementara dalam Mekong Hotel karya Apichatpong, air digambarkan sebagai sumber dan latar belakang untuk konflik dan kehancuran. Woo Ming Jin menggunakan kameranya untuk menyampaikan cerita dan Woman On Fire Looks for Water adalah maha karya sinematografi yang mengisahkan hilangnya tradisi memancing sebagai mata pencaharian di Malaysia. Chasing Waves karya Charlibebs Gohetia memperlihatkan pemikiran dua pemuda yang keluarganya hampir terkoyak oleh lingkungan yang rusak dan iklim politik. Di sisi lain, Nguyen-Vo mengangkat topik perubahan iklim dengan pendekatan secara langsung, dalam filmnya bertema sains fiksi menegangkan berjudul 2030. Kamila Andini juga menggunakan pendekatan yang sama dengan mengangkat masalah berkurangnya sumber daya di laut dalam filmnya yang berjudul The Mirror Never Lies. Film ini dengan piawai mengisahkan desa nelayan di Indonesia yang menghadapi kerusakan yang tak dapat diperbaiki.