FILM MASA LALU ARTSCIENCE ON SCREEN


Arsip acara pementasan film masa lalu untuk ArtScience on Screen.

Film Masa Lalu 
 


ArtScience on Screen: Air

ArtScience on Screen: Water 

Sebagai sumber semua kehidupan, air sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Namun, di saat yang sama, air juga memiliki kekuatan merusak dan menghancurkan. Air merupakan subjek mimpi, fantasi, dan ritual keagamaan, dan sering digunakan sebagai metafora untuk hubungan yang emosional nan rumit dalam kesusastraan dan film. 7 seri film naratif utama berdurasi panjang ini, Water, meliput tema luas layaknya perubahan iklim, konservasi laut, warisan budaya, kenangan, permainan, romansa, dan kematian.

Menampilkan artis sekaligus sineas film terkenal di seantero Asia Tenggara seperti Sherman Ong, Apichatpong Weerasethakul, Woo Ming Jin, Charliebebs Gohetia, Nghiem-Minh Nguyen-Vo, dan Kamila Andini, Water mencakup wilayah perspektif luas dan narasi yang begitu mendalam. Dalam film karya Ong berjudul Flooding in the Time of Drought, air digunakan sebagai metafora untuk pasang surut pergerakan pekerja asing dan tak tetap di Singapura. Sementara dalam Mekong Hotel karya Apichatpong, air digambarkan sebagai sumber dan latar belakang untuk konflik dan kehancuran. Woo Ming Jin menggunakan kameranya untuk menyampaikan cerita dan Woman On Fire Looks for Water adalah maha karya sinematografi yang mengisahkan hilangnya tradisi memancing sebagai mata pencaharian di Malaysia. Chasing Waves karya Charlibebs Gohetia memperlihatkan pemikiran dua pemuda yang keluarganya hampir terkoyak oleh lingkungan yang rusak dan iklim politik. Di sisi lain, Nguyen-Vo mengangkat topik perubahan iklim dengan pendekatan secara langsung, dalam filmnya bertema sains fiksi menegangkan berjudul 2030. Kamila Andini juga menggunakan pendekatan yang sama dengan mengangkat masalah berkurangnya sumber daya di laut dalam filmnya yang berjudul The Mirror Never Lies. Film ini dengan piawai mengisahkan desa nelayan di Indonesia yang menghadapi kerusakan yang tak dapat diperbaiki.   

Ditutup pada 1 Maret 2017





Lo and Behold: Reveries of the Connected World

Oleh Werner Herzog

Masyarakat menggantungkan segala kebutuhannya pada Internet, tetapi kita hampir tidak pernah mencoba menilai dari kejauhan dan menyadari kerumitan serta kekuataannya yang mencemaskan. Lewat wawancaranya dengan banyak orang, mulai dari Elon Musk hingga pencandu game, Werner Herzog menampilkan jaringan ini dengan semua keliaran serta potensi utopisnya melalui pengamatan yang berliku, namun menyenangkan terhadap kehidupan online kita yang makin cepat saling terhubung ini. Lo and Behold ditampilkan bersama pameran Big Bang Data.

Werner Herzog, sutradara kenamaan dengan karya-karyanya, Aguirre, the Wrath of God (1972), Fitzcarraldo (1982), dan Grizzly Man (2005) adalah salah satu pembuat film paling penting di dunia. Ia mulai mengembangkan film saat masih berumur 15 tahun dan sejak saat itu telah menulis, memproduseri, serta menyutradarai lebih dari 70 film, sekaligus menerbitkan buku, mementaskan opera, berakting di film. Dalam kariernya selama lebih dari empat dasawarsa yang penuh prestasi, ia secara konsisten melakukan inovasi dalam penggambaran sosok pahlawannya melalui mimpi-mimpinya yang mustahil, orang-orang dengan bakat unik, atau orang-orang yang bertentangan dengan alam. Dikenal karena pendekatan pembuatan filmnya yang ekstrem dan tidak biasa, ia telah memindahkan kapal melewati gunung (Fitzcarraldo, 1982), berkolaborasi dengan ilmuwan NASA (The Wild Blue Yonder, 2005), dan dengan berani membuka diri untuk teknologi baru (Cave of Forgotten Dreams, 2010). Ia telah memenangan puluhan penghargaan bergengsi, dan pada tahun 2009, dimasukkan ke dalam jajaran 100 orang paling berpengaruh di dunia oleh majalah Time.

Tutup pada 9 Januari 2017


Anima Mundi

Anima Mundi adalah film dokumenter pendek yang disutradarai oleh Godfrey Reggio dan diiringi oleh musik latar karya Philip Glass yang diputar secara terus menerus. Film ini mengombinasikan musik dan gambar bergerak untuk menghanyutkan penonton dalam dunia keanekaragaman hayati yang puitis menakjubkan. Dibuat dengan menggabungkan gambar asli dengan rekaman lama dari bidang film naturalis, Anima Mundi adalah penghargaan sinematik kepada varietas spesies, sistem, dan elemen tak terbatas yang bersama-sama membentuk suatu keutuhan spektakuler dan harmonis.

Bersama dengan musik latarnya, film ini melampaui mediumnya, menggugah para penonton secara mendalam dan emosional untuk menumbuhkan semacam rasa keterhubungan dengan margasatwa. Film ini dipesan oleh Bulgari demi merayakan keindahan alam dan mendukung Kampanye Keanekaragaman Hayati yang diselenggarakan oleh World Wildlife Fund (WWF).

Tutup pada 17 Agustus 2016


Whale Rider

Berlatar di pesisir timur Selandia Baru, film Whale Rider yang memperoleh nominasi Academy Award ini mengisahkan tentang suku Whangara, yang telah mendiami wilayah tersebut selama ratusan tahun. Sang tokoh utama, Pai, seorang gadis berusia 11 tahun, meyakini bahwa dirinya ditakdirkan menjadi kepala suku Whangara yang baru. Namun menurut tradisi, pemimpin suku haruslah cucu pertama Paikea, sang Penunggang Paus, yang menunggangi seekor paus dari Hawaiki. Kakeknya, Koro, terikat oleh tradisi untuk memilih pemimpin laki-laki. Pai mencintai Koro melebihi siapa pun di dunia ini, tetapi ia harus melawannya dan juga tradisi ratusan tahun untuk memenuhi takdirnya.

Tutup pada 29 Juli 2016


Observasi - Artscience On Screen di Marina Bay Sands

Observasi

Observations adalah program terkurasi yang menampilkan karya seniman yang berbentuk gambar-bergerak yang mengeksplorasi bagaimana suatu rangkaian penelitian ilmiah tertentu, atau sebuah metodologi yang diambil dari sains, menghasilkan makna dalam praktik artistik. Melalui karya dari empat seniman internasional, program ini merayakan rasa keingin-tahuan dan kemampuan mata untuk melihat; bagaimana mata seniman mungkin melihat dunia dengan cara yang berbeda. Dengan merujuk pada teknologi nano, alam, gelombang suara, dan materialitas dari tubuh kita sendiri, masing-masing karya berangkat dari titik yang berbeda-beda, dan menggunakan cara yang beragam untuk mengeksplorasi subjek mereka. Sebagai keseluruhan, karya-karya ini mengingatkan kepada kita potensi kuat yang dimiliki oleh proses artistik dalam mengeksplorasi, melihat, dan memvisualkan dunia di sekitar kita. Penyelidikan mereka membawa kita dalam sebuah perjalanan visual dan bunyi yang menembus permukaan observasi sehari-hari dan membuka pintu ke dunia yang tak mungkin terlihat dengan cara lain. 

Menampilkan karya dari Semiconductor (Kerajaan Inggris), Ryoichi Kurokawa (Jepang), Skoltz_Kolgen (Kanada), dan Rohini Devasher (India).

Tutup pada 22 Februari 2016


Particle Fever - Artscience On Screen di Marina Bay Sands

Particle Fever

Particle Fever adalah film dokumenter produksi tahun 2013 yang mengajak kita untuk menyaksikan langsung momen paling signifikan dalam penemuan sains. Film dokumenter yang sangat memikat, dan terkadang begitu menyentuh ini mengikuti enam ilmuwan CERN selama proses persiapan dan peluncuran Large Hadron Collider, eksperimen sains terbesar sepanjang sejarah. Film ini mengikuti jatuh-bangun para ilmuwan, serta keraguan dan harapan mereka akan masa depan, di saat mereka berupaya melampaui batas pemahaman manusia akan dunia di sekitar kita. 

Tutup pada 14 Februari 2016