FILM MASA LALU ARTSCIENCE ON SCREEN


Arsip acara pementasan film masa lalu untuk ArtScience on Screen.

Film Masa Lalu 
 


ArtScience on Screen: Musim Anime

Musim Anime

Tempat: Expression Gallery, Lantai 4
Tanggal & Waktu Pertunjukan:
3 – 11, 13, 14 & 16 Jul | 11.50, 14.10 & 16.30
17, 18, 21 – 23 Juli, 28 – 31 Juli | 11.00, 12.30, 14.00, 15.30 & 17.00

Sebagai bagian dari Anime Season, ArtScience on Screen mempersembahkan musim pemutaran film animasi klasik yang menakjubkan dan memenangkan penghargaan dari perusahaan animasi ikonis, yakni Studio Ghibli.

Nantikan empat mahakarya imajinasi dan kecantikan visual yang menawan dari pabrik mimpi yang tak tertandingi ini selama bulan Juli.

(Pemutaran dalam bahasa Inggris tanpa Teks)

Untuk informasi lebih banyak mengenai film-film yang ditayangkan, silakan klik di sini.

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Look at the Earth from the Universe 

Tempat: Expression Gallery, Lantai 4
Tanggal: 3 – 5 Juni (Ditayangkan terus-menerus) 

Durasi: 1j 43men

'Look at the Earth from the Universe’ adalah program pendamping berupa film seniman berlayar tunggal untuk melengkapi The Universe and Art: An Artistic Voyage through Space. Pameran ini adalah perjalanan melalui kosmos, menjelajahi asal muasal dan tujuan kita. Pertunjukan ini merangkai konstelasi filosofi Timur dan Barat nan kaya, seni kuno dan kontemporer, serta sains dan agama untuk menelusuri cara umat manusia memaknai kehadirannya di Alam Semesta secara terus menerus.

Dengan elemen fiksi ilmiah dan serangkaian penampilan yang kuat, ‘Look at the Earth from the Universe’ menjelajahi kekaguman kita terhadap angkasa dan pertanyaan yang akan muncul apabila manusia berjumpa dengan makhluk cerdas lainnya. 

Program pemutaran karya video bersaluran tunggal dipilih oleh Tsubaki Reiko (Associate Curator di Mori Art Museum, Tokyo). Acara ini merupakan bagian dari musim Art and Science of Space di ArtScience Museum. 
 

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Facing the Unknown

Masa Putar: 13 menit 59 detik
Peringkat: G (Semua Umur)

Sebagaimana yang sering dilakukan oleh Yamamoto Takayuki dalam filmnya, ia memandang dunia melalui sudut pandang anak-anak. Sebagaimana keajaiban semesta alam dijelaskan secara luar biasa mendetail, kemegahan keajaiban dalam hal ukuran sekaligus rasa frustasi dalam memahami kompleksitasnya tergambarkan melalui sudut pandang dua anak kecil. Ketika seorang profesor di bidang fisika menjelaskan fenomena lubang hitam, yang mereka pahami adalah mereka tahu jika dunia berakhir. 

Tentang Sutradara: Yamamoto Takayuki 
Yamamoto Takayuki adalah seniman asal Jepang, yang tinggal di Tokyo dan memiliki latar belakang sebagai guru. Sebagai seniman dia bekerja dalam media campuran dan telah memamerkan karyanya secara internasional.

 

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

The Moonwalk Machine 

Masa Putar: 5 menit 4 detik
Peringkat: PG (Bimbingan Orang Tua)

“The Moonwalk Machine – Selena’s Step” adalah film pendek menceritakan tentang ilmuwan pemula bernama Selena yang berusaha untuk meniru idolanya, superhero bernama Lunar Girl, dengan membangun rover bersepatu hak tinggi dan meluncurkannya di atas permukaan bulan. Untuk menciptakan bentuk rover Selena, Sputniko! berkiblat pada Universities Space Research Association dan Lunar Planetary Institute dari NASA, agar mendapatkan purwarupa yang akurat. Setelah melewati serangkaian kalkulasi yang kompleks, terobosan ilmiah, dan teknik secara langsung, tokoh protagonis kita menulis ulang sejarah untuk meninggalkan jejak wanita dalam warisan luar angkasa kita.

Tentang Sutradara: Sputniko! 
Sputniko! adalah seniman dan ilmuwan Inggris/Jepang yang karyanya mendobrak batas norma gender dan kebudayaan, serta termasuk praktik mesin, robotik, musik, dan video. Karya-karyanya mengupas masalah seputar teknologi dan kultur pop. 

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

The Space Camp

Masa Putar: 6 menit 46 detik
Peringkat: PG (Bimbingan Orang Tua)

Diproduksi bertepatan dengan “Space Program: MARS 2012” oleh Tom Sachs di Park Avenue Armory di New York, “Space Camp” adalah program atletik, diet, dan pembentukan psikologis, yang didesain untuk mempersiapkan kru Tom Sachs dalam menghadapi kerasnya misi ke Planet Mars. Dibuat dengan tangan namun dipelajari dengan cermat dan sangat memperhatikan detail, kru tersebut mereka ulang setiap aspek pelatihan program angkasa luar, kostum yang begitu menyerupai aslinya, dan rasa persaudaaran yang terbangun alam misi ini. 

Tentang Sutradara: Tom Sachs
Pematung asal Amerika, Tom Sachs sering mereka ulang objek atau peristiwa yang begitu signifikan dalam kebudayaan menggunakan bahan non industri dan murah. 
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Newton

Masa Putar: 4 menit 16 detik
Peringkat: PG (Bimbingan Orang Tua)

Menggunakan multimedia, seniman asal Singapura Ho Tzu Nyen sering menempatkan secara berdampingan fakta bersejarah dengan praktik ritual dan tak masuk akal atau situasi yang lucu. Dalam Newton, kita adalah satu tangan mengapung dalam dunia putih menentang gravitasi. Di saat yang sama kita menyaksikan opus putih yang tampaknya memiliki arti jatuh mengenai kepala para tokoh utama yang seluruhnya berwarna putih. Dalam naratif Sisifus, hukum normal fisika dan waktu seolah lenyap, dan aksi memiliki sedikit atau bahkan tanpa konsekuensi.

Tentang Sutradara: Ho Tzu Nyen 

Ho Tzu Nyen, seniman asal Singapura mewakili negaranya dalam 54th Venice Biennale dan telah berpartisipasi dalam Festival Film Cannes dan Sundance, juga berbagai festival media seni dan pameran internasional.
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Planet A & Planet Z 

Masa Putar: 17 menit 10 detik
Peringkat: G (Semua Umur)


Episode pertama dalam serial Planet, “Planet A” menunjukkan dunia yang penuh kekhawatiran, keanehan, namun sekaligus ceria yang hanya berisikan formasi kristal garam. Kecantikan fisik dan karakter korosif kristal garam ini terlihat seperti kekuatan yang menyerang dan berbahya dalam ekosistem nan rapuh. 
Dalam Planet Z, episode kedua dalam serial Planet, seniman ini menciptakan dunia maha besar yang terdiri atas protagonis nan aneh, yakni kecambah, kapang, dan jamur. Elemen kecil ini menempati dan mendiami dalam satu visi distopia dunia yang kerap berubah. 

Tentang Sutradara: Seto Momoko
Melalui karya videonya, yang ditampilkan secara meluas dalam berbagai festival film terkemuka di seluruh dunia, seniman asal Jepang Momoko Seto mengundang kita untuk melakukan perjalanan indrawi melalui dunia nan aneh dan sangat puitis. 

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Towards the Possible Film

Masa Putar: 19 menit 20 detik
Peringkat: PG (Bimbingan Orang Tua)

Dalam sebuah perjumpaan tak lazim, dua tokoh tampak seperti dari dunia lain berjumpa dengan penduduk asli pantai berbukit batu. Perjumpaan dengan suku asli digambarkan penuh ketegangan dan tidak ada rasa kepercayaan, serta dinarasikan dalam rentetan kata bagai halusinasi dan terdistorsi. Dialek asli mereka telah lama terlupakan dan kuil mereka telah menjadi reruntuhan. Mungkin penduduk asli di sini memiliki alasan untuk menjadi waspada, karena ringkihnya peradaban ini dieksplorasi dalam narasi sains fiksi bernuansa kolonialisme yang kuat.

Tentang Sutradara: Shezad Dawood
Shezad Dawood, seniman yang berasal dari London menciptakan karya multi-media yang terinspirasi dari latar belakangnya yang berasal dari Pakistan, India, dan Inggris. Karya puitisnya yang melintasi beragam media berkaitan dengan gagasan tempat dan bahasa, serta penerjemahan.
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Black Rain

Masa Putar: 3 menit
Peringkat: PG (Bimbingan Orang Tua)

“Black Rain” dibuat dengan kolaborasi bersama para ilmuwan dan bersumber dari sejumlah gambar yang dikumpulkan oleh satelit kembar, misi surya, STEREO. Dalam film ini kita dapat melihat data visual HI (Citra Heliosfer) saat menjelajahi ruang antar planet untuk melihat angin surya dan CME (Lontaran Massa Korona) yang mengarah ke Bumi. Menggunakan data satelit ilmiah dan mentah yang belum dibersihkan dan diproses untuk konsumsi publik, karya ini mengingatkan kita kehadiran para pengamat yang berusaha keras untuk memperpanjang persepsi dan pengetahuan kita melalui inovasi teknologi.

Tentang Sutradara: Semiconductor 
Semiconductor adalah dua seniman dari Inggris, Ruth Jarman dan Joe Gerhardt. Karya citra bergerak mereka berkaitan dengan praktik ilmiah dan data, serta telah dipamerkan secara internasional.
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Trinity

Masa Putar: 17 menit 40 detik
Peringkat: PG (Bimbingan Orang Tua)

Imajinasi ulang dari mitologi Mao Son paling tradisional, yang konon berasal dari Venus jutaan tahun yang lalu. Saat mengunjungi Jepang di masa modern, si Penguasa Pembela ingin menyatukan kembali ketiga elemen, yakni Cinta, Kekuatan, dan Matahari untuk membawa kesesuaian dan kedamaian di alam semesta. Dengan perpaduan berbagai genre, film ini mempertanyakan peran pihak luar dan menyorot tekanan antara tradisi dan pemikiran baru.

Tentang Sutradara: Alexandre Maubert
Alexandre Maubert adalah pembuat film dan seniman visual asal Prancis. Karyanya sering kali mengangkat mitologi sebagai bagian dan gagasan dari utopia masa depan.

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Space Noise 

Masa Putar: 8 menit 25 detik
Peringkat: G (Semua Umur)

Space Noise adalah proyek berjalan yang telah dipamerkan di 18 negara di seluruh dunia sejak 2013. Diceritakan melalui kemitraan pemusik dan seniman video, biasanya dilakukan sebagai pertunjukan langsung. Di sini seniman tersebut memperlihatkan versi yang lebih pendek dari karya ini, memancing imajinasi penonton dengan memainkan kualitas film.

Tentang Sutradara: Makino Takashi
Karya seniman asal Jepang Makino Takashi menggunakan film eksperimental. Karya videonya mengeksplorasi kualitas unik medium tersebut, khususnya penafsiran waktu dan hubungan dengan penonton. Mengabaikan struktur konvensional, seniman tersebut melapisi citra satu sama lain dan sering melakukan pertunjukan langsung agar memudahkan mereka berinteraksi dalam cara yang sekaligus memanfaatkan kualitas peluang. Makino Takashi menciptakan perjumpaan yang tak terduga dengan mendapat bantuan kolaborasi pemusik.
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Lunar Economic Zone

Masa Putar: 4 menit 19 detik
Peringkat: G (Semua Umur)

Diangkat dari kisah yang berlangsung pada perayaan tengah musim gugur penanggalan bulan tahun 2028. Film animasi ini menggambarkan versi masa depan saat Tiongkok telah menguasai teknologi penarikan ‘mineral bulan’ dan negara ini telah menjadi negara adidaya berteknologi maju dan kaya akan sumber daya. Film ini berlatar belakang Parade Mineral Bulan Hari Pertengahan Agustus yang bertempat di Lunar Economic Zone (Zona Ekonomi Bulan) yang baru saja dibentuk, aglomerasi administratif Shenzhen dan Bulan. Dalam masa depan yang tidak terlalu jauh ini banyak dari keunggulan kehidupan masa kini tetap bertahan, dan parade tersebut meski lebih megah dan terasa nuansa perkotaannya, sehingga kita dapat membayangkannya bahwa masa depan tidaklah begitu berbeda dari masa kini. 

Tentang Sutradara: Zhan Wang 

Zhan Wang seniman yang berbasis di London bekerja dengan menggunakan media yang berbeda termasuk patung dan video. Motif pahatannya sering kali berkiblat pada kebudayaan Tiongkok kontemporer dan diwujudkan dalam cara yang sederhana namun dengan pemikiran yang memprovokasi. 
 
ArtScience on Screen: Film Ruang Angkasa

ArtScience on Screen: Film Ruang Angkasa

Jelajahi beragam pilihan petualangan ruang angkasa nan mencengangkan! Ikuti jejak sederet ahli matematika, pengode, dan teknisi wanita yang merupakan bagian dari tim inti NASA pada 1960-an; rasakan sisi gelap Bulan seorang diri dan perjumpaan tak terduga dengan kecerdasan buatan; jelajahi keajaiban sistem tata surya bersama Brian Cox dan bayangkan tantangan yang akan kita hadapi saat menemukan bentuk kehidupan alternatif di ruang angkasa.

Selama Jumat Keluarga, singgahi kembali sejumlah petualangan fiksi ilmiah anak-anak bernuansa klasik, dan temukan segala hal yang terjadi saat impian Anda merakit pesawat antariksa menjadi kenyataan atau ketika alien yang ramah datang dan tinggal bersama Anda.

Kredit gambar: Hidden Figure, Twentieth Century Fox

ArtScience on Screen: Air

ArtScience on Screen: Water 

Sebagai sumber semua kehidupan, air sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Namun, di saat yang sama, air juga memiliki kekuatan merusak dan menghancurkan. Air merupakan subjek mimpi, fantasi, dan ritual keagamaan, dan sering digunakan sebagai metafora untuk hubungan yang emosional nan rumit dalam kesusastraan dan film. 7 seri film naratif utama berdurasi panjang ini, Water, meliput tema luas layaknya perubahan iklim, konservasi laut, warisan budaya, kenangan, permainan, romansa, dan kematian.

Menampilkan artis sekaligus sineas film terkenal di seantero Asia Tenggara seperti Sherman Ong, Apichatpong Weerasethakul, Woo Ming Jin, Charliebebs Gohetia, Nghiem-Minh Nguyen-Vo, dan Kamila Andini, Water mencakup wilayah perspektif luas dan narasi yang begitu mendalam. Dalam film karya Ong berjudul Flooding in the Time of Drought, air digunakan sebagai metafora untuk pasang surut pergerakan pekerja asing dan tak tetap di Singapura. Sementara dalam Mekong Hotel karya Apichatpong, air digambarkan sebagai sumber dan latar belakang untuk konflik dan kehancuran. Woo Ming Jin menggunakan kameranya untuk menyampaikan cerita dan Woman On Fire Looks for Water adalah maha karya sinematografi yang mengisahkan hilangnya tradisi memancing sebagai mata pencaharian di Malaysia. Chasing Waves karya Charlibebs Gohetia memperlihatkan pemikiran dua pemuda yang keluarganya hampir terkoyak oleh lingkungan yang rusak dan iklim politik. Di sisi lain, Nguyen-Vo mengangkat topik perubahan iklim dengan pendekatan secara langsung, dalam filmnya bertema sains fiksi menegangkan berjudul 2030. Kamila Andini juga menggunakan pendekatan yang sama dengan mengangkat masalah berkurangnya sumber daya di laut dalam filmnya yang berjudul The Mirror Never Lies. Film ini dengan piawai mengisahkan desa nelayan di Indonesia yang menghadapi kerusakan yang tak dapat diperbaiki.   

Ditutup pada 1 Maret 2017





Lo and Behold: Reveries of the Connected World

Oleh Werner Herzog

Masyarakat menggantungkan segala kebutuhannya pada Internet, tetapi kita hampir tidak pernah mencoba menilai dari kejauhan dan menyadari kerumitan serta kekuataannya yang mencemaskan. Lewat wawancaranya dengan banyak orang, mulai dari Elon Musk hingga pencandu game, Werner Herzog menampilkan jaringan ini dengan semua keliaran serta potensi utopisnya melalui pengamatan yang berliku, namun menyenangkan terhadap kehidupan online kita yang makin cepat saling terhubung ini. Lo and Behold ditampilkan bersama pameran Big Bang Data.

Werner Herzog, sutradara kenamaan dengan karya-karyanya, Aguirre, the Wrath of God (1972), Fitzcarraldo (1982), dan Grizzly Man (2005) adalah salah satu pembuat film paling penting di dunia. Ia mulai mengembangkan film saat masih berumur 15 tahun dan sejak saat itu telah menulis, memproduseri, serta menyutradarai lebih dari 70 film, sekaligus menerbitkan buku, mementaskan opera, berakting di film. Dalam kariernya selama lebih dari empat dasawarsa yang penuh prestasi, ia secara konsisten melakukan inovasi dalam penggambaran sosok pahlawannya melalui mimpi-mimpinya yang mustahil, orang-orang dengan bakat unik, atau orang-orang yang bertentangan dengan alam. Dikenal karena pendekatan pembuatan filmnya yang ekstrem dan tidak biasa, ia telah memindahkan kapal melewati gunung (Fitzcarraldo, 1982), berkolaborasi dengan ilmuwan NASA (The Wild Blue Yonder, 2005), dan dengan berani membuka diri untuk teknologi baru (Cave of Forgotten Dreams, 2010). Ia telah memenangan puluhan penghargaan bergengsi, dan pada tahun 2009, dimasukkan ke dalam jajaran 100 orang paling berpengaruh di dunia oleh majalah Time.

Tutup pada 9 Januari 2017


Anima Mundi

Anima Mundi adalah film dokumenter pendek yang disutradarai oleh Godfrey Reggio dan diiringi oleh musik latar karya Philip Glass yang diputar secara terus menerus. Film ini mengombinasikan musik dan gambar bergerak untuk menghanyutkan penonton dalam dunia keanekaragaman hayati yang puitis menakjubkan. Dibuat dengan menggabungkan gambar asli dengan rekaman lama dari bidang film naturalis, Anima Mundi adalah penghargaan sinematik kepada varietas spesies, sistem, dan elemen tak terbatas yang bersama-sama membentuk suatu keutuhan spektakuler dan harmonis.

Bersama dengan musik latarnya, film ini melampaui mediumnya, menggugah para penonton secara mendalam dan emosional untuk menumbuhkan semacam rasa keterhubungan dengan margasatwa. Film ini dipesan oleh Bulgari demi merayakan keindahan alam dan mendukung Kampanye Keanekaragaman Hayati yang diselenggarakan oleh World Wildlife Fund (WWF).

Tutup pada 17 Agustus 2016


Whale Rider

Berlatar di pesisir timur Selandia Baru, film Whale Rider yang memperoleh nominasi Academy Award ini mengisahkan tentang suku Whangara, yang telah mendiami wilayah tersebut selama ratusan tahun. Sang tokoh utama, Pai, seorang gadis berusia 11 tahun, meyakini bahwa dirinya ditakdirkan menjadi kepala suku Whangara yang baru. Namun menurut tradisi, pemimpin suku haruslah cucu pertama Paikea, sang Penunggang Paus, yang menunggangi seekor paus dari Hawaiki. Kakeknya, Koro, terikat oleh tradisi untuk memilih pemimpin laki-laki. Pai mencintai Koro melebihi siapa pun di dunia ini, tetapi ia harus melawannya dan juga tradisi ratusan tahun untuk memenuhi takdirnya.

Tutup pada 29 Juli 2016


Observasi - Artscience On Screen di Marina Bay Sands

Observasi

Observations adalah program terkurasi yang menampilkan karya seniman yang berbentuk gambar-bergerak yang mengeksplorasi bagaimana suatu rangkaian penelitian ilmiah tertentu, atau sebuah metodologi yang diambil dari sains, menghasilkan makna dalam praktik artistik. Melalui karya dari empat seniman internasional, program ini merayakan rasa keingin-tahuan dan kemampuan mata untuk melihat; bagaimana mata seniman mungkin melihat dunia dengan cara yang berbeda. Dengan merujuk pada teknologi nano, alam, gelombang suara, dan materialitas dari tubuh kita sendiri, masing-masing karya berangkat dari titik yang berbeda-beda, dan menggunakan cara yang beragam untuk mengeksplorasi subjek mereka. Sebagai keseluruhan, karya-karya ini mengingatkan kepada kita potensi kuat yang dimiliki oleh proses artistik dalam mengeksplorasi, melihat, dan memvisualkan dunia di sekitar kita. Penyelidikan mereka membawa kita dalam sebuah perjalanan visual dan bunyi yang menembus permukaan observasi sehari-hari dan membuka pintu ke dunia yang tak mungkin terlihat dengan cara lain. 

Menampilkan karya dari Semiconductor (Kerajaan Inggris), Ryoichi Kurokawa (Jepang), Skoltz_Kolgen (Kanada), dan Rohini Devasher (India).

Tutup pada 22 Februari 2016


Particle Fever - Artscience On Screen di Marina Bay Sands

Particle Fever

Particle Fever adalah film dokumenter produksi tahun 2013 yang mengajak kita untuk menyaksikan langsung momen paling signifikan dalam penemuan sains. Film dokumenter yang sangat memikat, dan terkadang begitu menyentuh ini mengikuti enam ilmuwan CERN selama proses persiapan dan peluncuran Large Hadron Collider, eksperimen sains terbesar sepanjang sejarah. Film ini mengikuti jatuh-bangun para ilmuwan, serta keraguan dan harapan mereka akan masa depan, di saat mereka berupaya melampaui batas pemahaman manusia akan dunia di sekitar kita. 

Tutup pada 14 Februari 2016