FILM SEBELUMNYA PADA ARTSCIENCE ON SCREEN


Arsip acara pementasan film sebelumnya untuk ArtScience on Screen.

Film Sebelumnya 
 

ArtScience on Screen: Dark Fairy Tales

ArtScience on Screen: Dark Fairy Tales

7 – 31 Des | mulai pukul 10.00
Expression Gallery, Lantai 4 | Gratis biaya masuk

Anda tidak memerlukan cermin ajaib untuk membuat keinginan Anda menjadi kenyataan. Dark Fairy Tales adalah program film cerita keluarga—kisah mengharukan tentang harapan, namun dengan sentuhan serigala besar yang jahat. Bergabunglah dalam penjelajahan kami di dalam hutan dan petualangan nan menakjubkan. Anda akan menemukan mimpi sehitam kayu eboni, pria dan wanita dengan pakaian semerah mawar, serta daratan seputih salju. Beranikan diri dan berhati-hatilah, tapi ingat, bayangan sering kali tidak sesuai dengan kenyataan.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya.

Breath Made Visible

Breath Made Visible

Mulai 18 Nov 2018
Expression Gallery, Lantai 4 | Gratis biaya masuk

Sebagai bagian dari musim Minimalisme kami, nikmati potret sinematik pemenang penghargaan dari pionir tari Anna Halprin. Menggunakan gerakan berulang, Halprin mengembangkan serangkaian tari modern yang memengaruhi generasi kolaborator minimalis dalam seni musik, tari, dan pahat. Pada usia 95 tahun, beliau masih mengajar di dek tarinya di California.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya.

ACARA SPESIAL: SINGAPORE ECO FILM FESTIVAL

ACARA SPESIAL: SINGAPORE ECO FILM FESTIVAL

Rayakan Singapore Eco Film Festival ke-3 (1 – 4 Nov) di ArtScience Museum. Festival ini mengusung sepuluh film dokumenter unggulan bertema lingkungan, dengan enam Pemutaran Perdana Singapura dan satu Pemutaran Perdana Asia. JANE, film dokumenter penyabet penghargaan ini akan membuka festival pada 1 Nov dengan menampilkan cuplikan video yang belum pernah disaksikan sebelumnya tentang eksplorasi dan penelitian awal Jane Goodall di Tanzania.

Mulai 2 – 4 Nov, Festival akan dibuka pada 10.00 - 19.00. Nantikan sembilan sesi film dan diskusi panel beserta rangkaian lokakarya yang akan diadakan beriringan dengan film.

ArtScience on Screen: I Am Not A Robot

ArtScience on Screen: I Am Not A Robot

Mulai 13 Sep | 10.00-19.00 (putar ulang)
Expression Gallery, Lantai 4 | Gratis biaya masuk

Pada masa depan, bagaimana kita akan memandang diri sendiri saat berhubungan dengan makhluk di sekitar kita?

Masihkah kita mengemban perasaan memiliki berdasarkan kelompok gender, agama, suku, atau sosial? Atau, akankah kita menyesuaikan kembali sistem perseptif untuk saling memahami sebagai bagian dari kelompok manusia, automaton, atau makhluk inteligensi sintetis?

Akankah kita merangkul perbedaan ini atau masihkah kita menganggapnya sebagai ancaman dari pihak ‘lain’- dan terjebak dalam paranoid ketidakpercayaan? Dan saat muncul peluang demi masa depan yang produktif, apakah kita akan mampu bertindak atau justru malah terbelenggu dalam ketakutan? 

Dalam program film pendek ini, tiga seniman dan pembuat film dari Afrika, Amerika Serikat, serta Timur Tengah menelusuri hubungan yang mungkin terjalin antarmakhluk di dunia masa depan. Film meliputi: Rajeev Dassani dan Elan Dassani  Seam, Fadi Baki Fdz,  Last Days of the Man of Tomorrow , serta Wanuri Kahiu,  Pumzi.

Pumzi dan Last Days of the Man of Tomorrow pertama kali ditayangkan oleh Cinema Akil untuk Global Art Forum: I Am Not A Robot di Dubai pada Maret 2018.

Ini merupakan program Global Art Forum: I Am Not A Robot | Singapura, yang dipersembahkan oleh ArtScience Museum dengan kolaborasi bersama Art Dubai.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya.

ArtScience On Screen: Seeing Systems

ArtScience On Screen: Seeing Systems

Dari 3 Agustus
Galeri ArtScience, Lantai 4 | Gratis biaya masuk

Seeing Systems adalah program spesial baru yang menjelajahi beberapa sistem organik dan inorganik tak kasat mata yang berdampak terhadap hidup kita. Melalui serangkaian film seni pendek yang mengena, program ini memvisualisasikan pola, struktur, dan kebiasaan di sekitar kehidupan kita sehari-hari; dari jalur terbang nyamuk yang umum ditemui atau jaringan persepsi neurologis hingga ketakutan yang sulit dibuktikan mengenai penularan bakteri dan virus tak kasat mata yang terjadi antara kita atau jalur migrasi dan penyebaran, kepemilikan dan perbedaan, yang tidak lurus.

Kumpulan gambar bergerak karya seniman Inggris ini telah dipersiapkan dan dipersembahkan dalam kolaborasi dengan videoclub, agensi seni Inggris terkemuka bagi seniman yang bekerja dengan gambar bergerak. Seniman yang berpartisipasi meliputi boredomresearch, Suki Chan, Anne Haaning, Lyndsay Mann, Ursula Mayer, Naheed Raza, dan Louise K. Wilson.

Klik di sini untuk membuka buklet program ArtScience On Screen: Buklet program Seeing Systems

Gratis biaya masuk.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya.

Bombshell: The Hedy Lamarr Story

Bombshell: The Hedy Lamarr Story

1 – 18 Jul, 20 – 31 Jul
Expression Gallery | Level 4 I Gratis biaya masuk

Dikenal di masanya sebagai ‘wanita tercantik di dunia’, Hedy Lamarr adalah inovator berpandangan maju dengan keahlian brilian. Hedy yang kritis dan jujur ini tidak takut mengutarakan pikiran dan mengikuti semangatnya. Paten ‘lompatan frekuensi’ miliknya telah menjadi dasar sejumlah teknologi paling jamak yang kita gunakan saat ini: Bluetooth, Wi-Fi, dan telepon nirkabel. Akan tetapi, khalayak paling mengingatnya sebagai bintang Hollywood glamor pada 1940-an. Film dokumenter pemenang penghargaan ini meninjau kembali peninggalan tersebut dan mengingatkan kita semua kepada sosok imigran yang berani, dengan pikiran yang penuh rasa ingin tahu dan tidak ragu mendobrak kebiasaan.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya. 

Animal Powers

Animal Powers 

Mulai 30 Mei
Expression Gallery | Level 4 I Gratis biaya masuk

Miniseri film ini menampilkan sejumlah sahabat hewan paling akrab yang berubah menjadi pahlawan dalam petualangan spektakuler mereka. Meliputi film yang digemari dari Filipina dan Malaysia, Animal Powers mengeksplorasi cara film menggambarkan dunia saat hewan yang dipandang sebelah mata dan manusia memutuskan untuk menangani masalah yang terjadi dengan tangan (atau kakinya) demi menyelamatkan dunia. 

Film

Tentang

Cicak Man

Ikuti Hairi, protagonis pemalu yang tidak sengaja mendapatkan kekuatan seperti cicak…

Ant-Man

Secara tiba-tiba mampu menyusutkan tubuhnya dengan kekuatan yang luar biasa, perampok yang telah bertobat ini harus mengikuti jiwa pahlawannya untuk menyelamatkan dunia.

Gagamboy

Pekerja gudang bongkar muat ini dianugerahi kekuatan laba-laba untuk mengalahkan musuh dan memenangkan hati gadis pujaannya.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya.

 

Beat of the Street

Beat of the Street

Dari 30 Apr
Expression Gallery I  Level 4 I  Gratis biaya masuk

Para pembuat film dokumenter menangkap detak Seni Jalanan semenjak kelahiran bentuk seni ini. Dengan merekam setiap gaya baru dan mengikuti setiap anggota baru, dokumenter berhasil menciptakan warisan bagi bentuk seni yang suatu saat dapat musnah dan mencatat perubahan pandangan terhadap seni perkotaan seiring waktu. 

Untuk tanggal pemutaran setelah 5 Mei, kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya. 

ArtScience on Screen

ArtScience on Screen

Mulai 1 April 2018

Saksikan berbagai dokumenter nan menarik yang merayakan seni dan sains dari sejarah alam!

Ikuti salah satu ilustrasi sains, John James Audubon, yang menciptakan mahakarya Birds of America pada 1838 dan menemukan bagaimana lempeng tembaga nan menakjubkan tiu hampir dilebur dan hancur selamanya.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya. 

Kelahiran Kerajaan Alam Liar Afrika

Kelahiran Kerajaan Alam Liar Afrika

Dari 24 Apr

Saksikan lahirnya kembali keliaran alam Afrika nan menginspirasi dan menakjubkan melalui mata kameraman dunia alam liar pemenang Emmy® Award, Bob Poole. Singa yang bergerak lincah, buaya yang bergulat, gajah yang menunduk marah – semuanya merupakan bagian dari kesibukan pekerjaan Bob ketika dia bergabung dengan perjuangan taman nasional legendaris yang lahir kembali.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya.

ArtScience on Screen: Beat of the Street

ArtScience on Screen: Beat of the Street

Mulai 12 Januari 2018 
Expression Gallery, Lantai 4

Para pembuat film dokumenter menangkap detak seni jalanan semenjak kelahiran bentuk seni ini. Dengan merekam setiap gaya baru dan mengikuti setiap anggota baru, dokumenter berhasil menciptakan warisan bagi bentuk seni yang suatu saat dapat musnah dan mencatat perubahan pandangan terhadap seni perkotaan seiring waktu.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya.

ArtScience on Screen: Yok & Sheryo

Yok & Sheryo

Mulai 2 Maret 2018 

Tinggalkan sejenak kehidupan Anda bersama ‘Seniman Grafitti Profesional’ Yok & Sheryo, dua seniman visual dari Australia dan Singapura, dalam perjalanan mereka dari Pulau Coney ke Etiopia dalam pilihan video perjalanan grafiti yang unik.

Untuk tanggal pemutaran mulai 2 Maret 2018, klik di sini untuk perincian selengkapnya.
Untuk tanggal pemutaran mulai 18 Maret 2018, klik di sini untuk perincian selengkapnya.

Wallwriters di Marina Bay Sands

Wall Writers

Mulai 11 Februari 2018

Ungkap kelahiran grafiti bersama seniman dinding terkenal dari New York City dan Philadelphia dari akhir 60-an dan awal 70-an serta budaya pada era mereka melalui wawancara eksklusif.

Kunjungilah laman acara Facebook kami untuk perincian selengkapnya. 

5 to 9 di ArtScience on Screen

ArtScience on Screen: 5 to 9

3 Des | 14.00, 15.30, 17.00

4 - 5 Des | 17.00

Expression Gallery, Lantai 4
90 menit | Gratis masuk

Klasifikasi: M18: Adegan seksual & bahasa kasar

Bahasa Mandarin, Jepang, Thailand dengan teks bahasa Inggris

5 to 9 terdiri atas empat film pendek yang berlangsung mulai 17.00 hingga 09.00 pada malam pertandingan bersejarah antara Brasil-Jerman di Piala Dunia 2014. Film ini berisi cuplikan intim dari cinta tanpa syarat dan perjumpaan terakhir.

Di Tiongkok, pekerja migran muda telah menyisihkan 3.000 RMB untuk menghabiskan malam bersama seorang tuna susila paruh baya. Namun, pada malam yang sama, ia berencana meninggalkan kota tersebut. Di Singapura, seorang guru setempat dan kekasihnya dari Tiongkok bertemu dan menyerahkan nasib masa depan mereka pada hasil pertandingan sepak bola. Di sisi lain, cerita di Jepang mengisahkan tentang operator proyektor film porno yang menagih utang dari para berandal demi orang-orang yang membutuhkan. Film ini diakhiri di Thailand dengan pengambilan adegan terakhir dari sebuah film sci-fi. Di balik kamera, sang sutradara mencurigai aktor utama dalam filmnya dan sang aktris yang juga merupakan istrinya.

Disutradari oleh Tay Bee Pin (Singapura), Daisuke Miyazaki (Jepang), Vincent Du (Tiongkok), dan Rasiguet Sookkarn (Thailand)

Pemutaran 5 to 9 ini dipersembahkan oleh ArtScience Museum dan Singapore International Film Festival

SGIFFL: 10th Anniversary Screening of Gone Shopping

SGIFF: 10th Anniversary Screening of Gone Shopping

1 – 6 Okt | 14.30 & 17.00
7 Okt | 17.00
8 Okt | 11.00, 14.30 & 17.00

Gone Shopping adalah drama satir mengenai obsesi berbelanja suatu negara yang mengubah hidup seorang wanita. Clara, seorang tai tai (wanita kaya yang hobi berfoya-foya) berusia 40 tahun, tengah menghadapi krisis usia paruh baya dan memutuskan untuk kabur ke satu-satunya tempat yang membuatnya begitu hidup – pusat perbelanjaan. Di sana, ia bertemu dengan seorang anak berusia delapan tahun yang ditelantarkan oleh orang tuanya di mal yang buka selama 24 jam; anak muda nan muram berusia 23 tahun yang menghindari pekerjaan dengan menghabiskan waktu di mal; serta mantan kekasihnya yang kini bekerja sebagai manajer toko bagian tempat tidur dan seprai. Bersama-sama, ‘makhluk’ mal ini mengantarkan kita mengarungi perjalanan seputar cinta, rasa kehilangan, dan kebebasan melintasi jantung Singapura.

Diluncurkan pada 2007 dan menuai beragam pujian kritikus, Gone Shopping adalah debut film berdurasi penuh pertama karya sutradara perempuan Wee Li Lin, yang tersohor sebagai sineas film pendek perempuan paling produktif di Singapura. Untuk merayakan hari jadinya yang kesepuluh, film ini diputar sebagai bagian dari program ArtScience on Screen yang bekerja sama dengan Singapore International Film Festival.

Untuk perincian selengkapnya, kunjungilah laman acara Facebook kami.

ArtScience on Screen: Wasted! The Story of Food Waste

ArtScience on Screen: Pemutaran Perdana di Asia – WASTED! The Story of Food Waste

Disutradarai oleh Anna Chai dan Nari Kye
4 – 6, 8 – 17, 19, 22, 24 – 30 Sep | 11.00, 12.30, 14.00, 15.30 & 17.00

Rating: NC16

Setiap tahunnya, 1,3 miliar ton makanan terbuang. Itu artinya senilai $218 miliar SGD makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia tidak pernah dimakan... Dengan sepertiga makanan dunia dibuang bahkan sebelum mencapai piring, saatnya memberikan pencerahan baru mengenai arti makanan dan sampah.

WASTED! The Story of Food Waste (2016) adalah film dokumenter panjang yang akan mengubah cara orang membeli, memasak, dan menyantap makanan.

Melalui pandangan chef-pahlawan seperti Massimo Bottura, Dan Barber, dan Danny Bowien, kita akan melihat bagaimana chef paling berpengaruh di dunia memerangi sampah makanan — mengubah anggapan kebanyakan orang tentang sampah sayuran dan buah, sisa makanan, juga makanan afkir, menjadi hidangan luar biasa dan dapat memberi makan lebih banyak orang, memengaruhi profit, dan menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

WASTED! juga akan memamerkan organisasi dan individu yang berpikiran ke depan dan sudah memengaruhi masa depan pemulihan makanan, serta menunjukkan bagaimana kegiatan makan memberdayakan Anda, dalam perjuangan untuk memecahkan salah satu masalah terbesar abad ke-21: limbah makanan global.
 

Tentang Sutradara:
Anna Chai adalah sutradara dan produser pemenang Emmy Award® yang terkenal akan karyanya pada seri James Beard Award, The Mind of a Chef, dan The Layover.

Nari Kye adalah kreator WASTED! The Story of Food Waste dipersembahkan oleh produser pemenang Emmy Award® untuk program televisi The Mind of a Chef dan pemenang Peabody Award®, Anthony Bourdain: Parts Unknown.

ArtScience on Screen: Otter Town

ArtScience on Screen: Otter Town

Oleh Nat Geo Wild
18 – 20, 23 – 24, 28 – 30 Agu | 11.00 – 17.00

Temui Riversiders dan Wildlings, dua keluarga berang-berang yang sangat berbeda dan tumbuh besar di salah satu pulau tersibuk di dunia – Singapura. Sebagai warga kota yang terlahir di alam bebas, Riversiders telah membuat jantung kota nan hiruk-pikuk ini menjadi rumah mereka.

 

 

 

 

ArtScience on Screen: Anime Season

Anime Season

Tempat: Expression Gallery, Lantai 4
Tanggal & Waktu Pertunjukan:
3 – 11, 13, 14 & 16 Jul | 11.50, 14.10 & 16.30
17, 18, 21 – 23 Juli, 28 – 31 Juli | 11.00, 12.30, 14.00, 15.30 & 17.00

Sebagai bagian dari Anime Season, ArtScience on Screen mempersembahkan musim pemutaran film animasi klasik yang menakjubkan dan memenangkan penghargaan dari perusahaan animasi ikonis, yakni Studio Ghibli.

Nantikan empat mahakarya imajinasi dan kecantikan visual menawan dari pabrik mimpi yang tak tertandingi ini selama bulan Juli.

(Pemutaran dalam bahasa Inggris tanpa Teks)

Untuk informasi lebih banyak mengenai film-film yang ditayangkan, klik di sini.

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Look at the Earth from the Universe 

Tempat: Expression Gallery, Lantai 4
Tanggal: 3 – 5 Juni (Ditayangkan terus-menerus) 

Durasi: 1j 43men

'Look at the Earth from the Universe’ adalah program pendamping berupa film seniman berlayar tunggal untuk melengkapi The Universe and Art: An Artistic Voyage through Space. Pameran ini adalah perjalanan melalui kosmos, menjelajahi asal muasal dan tujuan kita. Pertunjukan ini merangkai kekayaan konstelasi falsafah Timur dan Barat, seni kuno dan kontemporer, serta sains dan agama untuk menelusuri cara umat manusia memaknai kehadirannya di Alam Semesta secara terus-menerus.

Dengan elemen fiksi ilmiah dan serangkaian penampilan yang kuat, ‘Look at the Earth from the Universe’ menjelajahi kekaguman kita terhadap angkasa dan pertanyaan yang akan muncul jika manusia berjumpa dengan makhluk cerdas lainnya. 

Program pemutaran karya video saluran tunggal dipilih oleh Tsubaki Reiko (Associate Curator di Mori Art Museum, Tokyo). Acara ini merupakan bagian dari musim Art and Science of Space di ArtScience Museum. 

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Facing the Unknown

Durasi: 13 menit 59 detik
Rating: G (Semua Umur)

Sebagaimana sering dilakukan oleh Yamamoto Takayuki dalam filmnya, ia memandang dunia melalui sudut pandang anak-anak. Sebagaimana keajaiban semesta alam dijelaskan secara luar biasa mendetail, kemegahan keajaiban dalam ukuran sekaligus rasa frustrasi dalam memahami kompleksitasnya tergambarkan melalui sudut pandang dua anak kecil. Ketika seorang profesor di bidang fisika menjelaskan fenomena lubang hitam, yang mereka pahami adalah mereka merasa dunia akan berakhir. 

Tentang Sutradara: Yamamoto Takayuki 
Yamamoto Takayuki adalah seniman asal Jepang, yang tinggal di Tokyo dan memiliki latar belakang sebagai guru. Sebagai seniman dia bekerja dalam media campuran dan telah memamerkan karyanya secara internasional.

 

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

The Moonwalk Machine 

Durasi: 5 menit 4 detik
Rating: PG (Bimbingan Orang Tua)

“The Moonwalk Machine – Selena’s Step” adalah film pendek yang mengisahkan ilmuwan pemula bernama Selena yang berusaha meniru idolanya, superhero bernama Lunar Girl, dengan membangun rover bersepatu hak tinggi dan meluncurkannya di atas permukaan bulan. Untuk menciptakan bentuk rover Selena, Sputniko! berkiblat pada Universities Space Research Association dan Lunar Planetary Institute dari NASA, agar mendapatkan purwarupa yang akurat. Setelah melewati serangkaian kalkulasi yang kompleks, terobosan ilmiah, dan teknik secara langsung, tokoh protagonis kita menulis ulang sejarah untuk meninggalkan jejak yang sangat wanita dalam warisan luar angkasa kita.

Tentang Sutradara: Sputniko! 
Sputniko! adalah seniman dan ilmuwan Inggris/Jepang yang karyanya mendobrak batas norma gender dan kebudayaan, serta termasuk praktik mesin, robotik, musik, dan video. Karya-karyanya mengupas masalah seputar teknologi dan kultur pop. 

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

The Space Camp

Durasi: 6 menit 46 detik
Rating: PG (Bimbingan Orang Tua)

Diproduksi bertepatan dengan “Space Program: MARS 2012” oleh Tom Sachs di Park Avenue Armory di New York, “Space Camp” adalah program atletik, diet, dan pembentukan psikologis, yang didesain untuk mempersiapkan kru Tom Sachs dalam menghadapi kerasnya misi ke Planet Mars. Dibuat dengan tangan namun dipelajari dengan cermat dan sangat memperhatikan detail, kru tersebut mereka ulang setiap aspek pelatihan program angkasa luar, kostum yang begitu menyerupai aslinya, dan rasa persaudaaran yang terbangun dalam misi ini. 

Tentang Sutradara: Tom Sachs
Pematung asal Amerika, Tom Sachs, sering mereka ulang objek atau peristiwa yang begitu signifikan dalam kebudayaan menggunakan bahan non-industri dan murah. 
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Newton

Durasi: 4 menit 16 detik
Rating: PG (Bimbingan Orang Tua)

Menggunakan multimedia, seniman asal Singapura Ho Tzu Nyen sering mendampingkan fakta bersejarah dengan praktik ritual dan situasi yang tak masuk akal atau lucu. Dalam Newton, kita adalah satu tangan mengapung dalam dunia putih menentang gravitasi. Pada saat yang sama, kita menyaksikan opus putih besar yang jatuh mengenai kepala para tokoh utama yang seluruhnya berwarna putih. Dalam naratif Sisifus, hukum normal fisika dan waktu seolah lenyap, dan aksi memiliki sedikit atau bahkan tanpa konsekuensi.

Tentang Sutradara: Ho Tzu Nyen 

Ho Tzu Nyen, seniman asal Singapura, mewakili negaranya dalam 54th Venice Biennale dan telah berpartisipasi dalam Festival Film Cannes dan Sundance, juga berbagai festival media seni dan pameran internasional.
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Planet A & Planet Z 

Durasi: 17 menit 10 detik
Rating: G (Semua Umur)


Episode pertama dalam serial Planet, “Planet A” menunjukkan dunia yang penuh kekhawatiran, keanehan, sekaligus ceria yang hanya berisikan formasi kristal garam. Kecantikan fisik dan karakter korosif kristal garam ini terlihat seperti kekuatan yang menyerang dan berbahaya dalam ekosistem nan rapuh. 
Dalam Planet Z, episode kedua dalam serial Planet, seniman ini menciptakan dunia mahabesar yang terdiri atas protagonis nan aneh, yakni kecambah, kapang, dan jamur. Elemen kecil ini menempati dan mendiami satu visi distopia dunia yang kerap berubah. 

Tentang Sutradara: Seto Momoko
Melalui karya videonya, yang ditampilkan secara luas dalam berbagai festival film terkemuka di seluruh dunia, seniman asal Jepang, Momoko Seto, mengundang kita untuk melakukan perjalanan indrawi melalui dunia nan aneh dan sangat puitis. 

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Towards the Possible Film

Durasi: 19 menit 20 detik
Rating: PG (Bimbingan Orang Tua)

Dalam sebuah perjumpaan tak lazim, dua tokoh dari dunia lain berjumpa dengan penduduk asli pantai berkarang. Perjumpaan dengan suku asli digambarkan penuh ketegangan dan penuh ketidakpercayaan, serta dinarasikan dalam rentetan kata bagai halusinasi dan terdistorsi. Dialek asli mereka telah lama terlupakan dan kuil mereka telah menjadi reruntuhan. Mungkin penduduk asli di sini memiliki alasan untuk menjadi waspada, karena ringkihnya peradaban ini dieksplorasi dalam narasi sains fiksi bernuansa kolonialisme yang kuat.

Tentang Sutradara: Shezad Dawood
Shezad Dawood, seniman yang berasal dari London, menciptakan karya multimedia yang terinspirasi dari latar belakangnya yang berasal dari Pakistan, India, dan Inggris. Karya puitisnya yang melintasi beragam media berkaitan dengan gagasan tempat dan bahasa, serta penerjemahan.
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Black Rain

Durasi: 3 menit
Rating: PG (Bimbingan Orang Tua)

“Black Rain” dibuat dengan kolaborasi bersama para ilmuwan dan bersumber dari sejumlah gambar yang dikumpulkan oleh satelit kembar, misi surya, STEREO. Dalam film ini kita dapat melihat data visual HI (Citra Heliosfer) saat menjelajahi ruang antar planet untuk melihat angin surya dan CME (Lontaran Massa Korona) yang mengarah ke Bumi. Menggunakan data satelit ilmiah dan mentah yang belum dibersihkan dan diproses untuk konsumsi publik, karya ini mengingatkan kita kehadiran para pengamat yang berusaha keras untuk memperpanjang persepsi dan pengetahuan kita melalui inovasi teknologi.

Tentang Sutradara: Semiconductor 
Semiconductor adalah dua seniman dari Inggris, Ruth Jarman dan Joe Gerhardt. Karya citra bergerak mereka berkaitan dengan praktik ilmiah dan data, serta telah dipamerkan secara internasional.
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Trinity

Durasi: 17 menit 40 detik
Rating: PG (Bimbingan Orang Tua)

Imajinasi ulang dari mitologi Mao Son paling tradisional, yang konon berasal dari Planet Venus jutaan tahun yang lalu. Saat mengunjungi Jepang zaman modern, Penguasa Pembela ingin menyatukan kembali ketiga elemen, yakni Cinta, Kekuatan, dan Matahari untuk membawa kesesuaian dan kedamaian di alam semesta. Dengan perpaduan berbagai genre, film ini mempertanyakan peran pihak luar dan menyorot tekanan antara tradisi dan pemikiran baru.

Tentang Sutradara: Alexandre Maubert
Alexandre Maubert adalah pembuat film dan seniman visual asal Prancis. Karyanya sering kali mengangkat mitologi sebagai bagian dan gagasan dari utopia masa depan.

ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Space Noise 

Durasi: 8 menit 25 detik
Rating: G (Semua Umur)

Space Noise adalah proyek berjalan yang telah dipamerkan di 18 negara di seluruh dunia sejak 2013. Diceritakan melalui kemitraan pemusik dan seniman video, biasanya dilakukan sebagai pertunjukan langsung. Di sini, seniman tersebut memperlihatkan versi yang lebih pendek dari karya ini, memancing imajinasi penonton dengan memainkan kualitas film.

Tentang Sutradara: Makino Takashi
Karya seniman asal Jepang Makino Takashi menggunakan film eksperimental. Karya videonya mengeksplorasi kualitas unik medium tersebut, khususnya penafsiran waktu dan hubungan dengan penonton. Mengabaikan struktur konvensional, seniman tersebut melapisi citra satu sama lain dan sering melakukan pertunjukan langsung agar memudahkan mereka berinteraksi dalam cara yang sekaligus memanfaatkan kualitas peluang. Makino Takashi menciptakan perpaduan tak terduga dengan bantuan kolaborasi pemusik.
 
ArtScience on Screen: Look at the Earth from the Universe

Lunar Economic Zone

Durasi: 4 menit 19 detik
Rating: G (Semua Umur)

Diangkat dari kisah yang berlangsung pada perayaan tengah musim gugur penanggalan bulan tahun 2028. Film animasi ini menggambarkan versi masa depan saat Tiongkok telah menguasai teknologi penambangan ‘mineral bulan’ dan negara ini telah menjadi negara adidaya berteknologi maju dan kaya akan sumber daya. Film ini berlatar belakang Parade Mineral Bulan Hari Pertengahan Agustus yang bertempat di Lunar Economic Zone (Zona Ekonomi Bulan) yang baru saja dibentuk, aglomerasi administratif Shenzhen dan Bulan. Dalam masa depan yang tidak terlalu jauh ini, banyak karakter kehidupan masa kini yang tetap bertahan, dan parade tersebut, sekalipun lebih megah dan terasa nuansa perkotaannya daripada yang kita bayangkan saat ini, masih menghadirkan kemiripan bahwa masa depan tidaklah begitu berbeda daripada saat ini. 

Tentang Sutradara: Zhan Wang 

Zhan Wang, seniman yang berbasis di London, berkarya menggunakan berbagai media, termasuk patung dan video. Motif pahatannya sering kali berkiblat pada kebudayaan Tiongkok kontemporer dan diwujudkan dalam cara sederhana namun dengan pemikiran yang memprovokasi. 
 
ArtScience on Screen: Film Ruang Angkasa

ArtScience on Screen: Film Ruang Angkasa

Jelajahi beragam pilihan petualangan ruang angkasa nan mencengangkan! Ikuti jejak sederet ahli matematika, pengode, dan teknisi wanita yang merupakan bagian dari tim inti NASA pada 1960-an; rasakan sisi gelap Bulan seorang diri dan perjumpaan tak terduga dengan kecerdasan buatan; jelajahi keajaiban sistem tata surya bersama Brian Cox, dan bayangkan tantangan yang akan kita hadapi saat menemukan bentuk kehidupan alternatif di ruang angkasa.

Selama Jumat Keluarga, singgahi kembali sejumlah petualangan fiksi ilmiah anak-anak bernuansa klasik, dan temukan segala hal yang terjadi saat impian Anda merakit pesawat antariksa menjadi kenyataan atau ketika alien yang ramah datang dan tinggal bersama Anda.

Kredit gambar: Hidden Figure, Twentieth Century Fox

ArtScience on Screen: Water

ArtScience on Screen: Water 

Sebagai sumber semua kehidupan, air sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Namun, di saat yang sama, air juga memiliki kekuatan merusak dan menghancurkan. Air merupakan subjek mimpi, fantasi, dan ritual keagamaan, dan sering digunakan sebagai metafora untuk hubungan emosional nan rumit dalam kesusastraan dan film. 7 seri film naratif utama berdurasi panjang ini, Water, mencakup berbagai tema, seperti perubahan iklim, konservasi laut, warisan budaya, kenangan, permainan, romansa, dan kematian.

Menampilkan artis sekaligus sineas film terkenal di seantero Asia Tenggara, seperti Sherman Ong, Apichatpong Weerasethakul, Woo Ming Jin, Charliebebs Gohetia, Nghiem-Minh Nguyen-Vo, dan Kamila Andini, Water membahas perspektif luas dan narasi yang begitu mendalam. Dalam film karya Ong berjudul Flooding in the Time of Drought, air digunakan sebagai metafora pasang surut pergerakan pekerja asing dan tak tetap di Singapura. Sementara itu, dalam Mekong Hotel karya Apichatpong, air digambarkan sebagai sumber dan latar belakang untuk konflik dan kehancuran. Woo Ming Jin menggunakan kameranya untuk menyampaikan cerita dan Woman On Fire Looks for Water adalah mahakarya sinematografi yang mengisahkan hilangnya tradisi memancing sebagai mata pencaharian di Malaysia. Chasing Waves karya Charlibebs Gohetia memperlihatkan pemikiran dua pemuda yang keluarganya hampir terkoyak oleh kerusakan lingkungan dan iklim politik. Di sisi lain, Nguyen-Vo mengangkat topik perubahan iklim dengan pendekatan secara langsung, dalam filmnya bertema sains fiksi menegangkan berjudul 2030. Kamila Andini juga menggunakan pendekatan yang sama dengan mengangkat masalah berkurangnya sumber daya di laut dalam filmnya yang berjudul The Mirror Never Lies. Film ini dengan piawai mengisahkan desa nelayan di Indonesia yang menghadapi kerusakan yang tak dapat diperbaiki.   

Ditutup pada 1 Maret 2017





Lo and Behold: Reveries of the Connected World

Oleh Werner Herzog

Masyarakat menggantungkan segala kebutuhannya pada Internet, tetapi kita hampir tidak pernah mencoba menilai dari kejauhan dan menyadari kerumitan serta kekuataannya yang mencemaskan. Lewat wawancaranya dengan banyak orang, mulai Elon Musk hingga pencandu game, Werner Herzog menampilkan jaringan ini dengan semua keliaran serta potensi utopisnya melalui penelaahan yang berliku, namun menyenangkan terhadap kehidupan online kita yang kian terhubung dengan pesat ini. Lo and Behold ditampilkan bersama pameran Big Bang Data.

Werner Herzog, sutradara kenamaan dengan karya-karyanya, Aguirre, the Wrath of God (1972), Fitzcarraldo (1982), dan Grizzly Man (2005) adalah salah satu pembuat film paling penting di dunia. Ia mulai mengembangkan film saat masih berumur 15 tahun dan sejak saat itu telah menulis, memproduseri, serta menyutradarai lebih dari 70 film, sekaligus menerbitkan buku, mementaskan opera, berakting di film. Dalam karier gemilangnya selama lebih dari empat dasawarsa, ia secara konsisten melakukan inovasi dalam penggambaran sosok pahlawannya melalui mimpi-mimpinya yang mustahil, orang-orang dengan bakat unik, atau orang-orang yang bertentangan dengan alam. Dikenal karena pendekatan pembuatan filmnya yang ekstrem dan tidak biasa, ia telah memindahkan kapal melewati gunung (Fitzcarraldo, 1982), berkolaborasi dengan ilmuwan NASA (The Wild Blue Yonder, 2005), dan dengan berani membuka diri untuk teknologi baru (Cave of Forgotten Dreams, 2010). Ia telah memenangan puluhan penghargaan bergengsi, dan pada tahun 2009, dimasukkan ke dalam jajaran 100 orang paling berpengaruh di dunia oleh majalah Time.

Tutup pada 9 Januari 2017


Anima Mundi

Anima Mundi adalah film dokumenter pendek yang disutradarai oleh Godfrey Reggio dan diiringi oleh musik latar karya Philip Glass yang diputar secara terus menerus. Film ini menggabungkan musik dan gambar bergerak untuk menghanyutkan penonton dalam dunia keanekaragaman hayati yang puitis serta menakjubkan. Dibuat dengan menggabungkan gambar asli dengan rekaman lama dari bidang film naturalis, Anima Mundi adalah penghargaan sinematik kepada varietas spesies, sistem, dan elemen tak terbatas yang bersama-sama membentuk suatu keutuhan spektakuler dan harmonis.

Bersama musik latarnya, film ini melampaui perantaranya, menggugah para penonton secara mendalam dan emosional untuk menumbuhkan rasa keterhubungan dengan margasatwa. Film ini dipesan oleh Bulgari demi merayakan keindahan alam dan mendukung Kampanye Keanekaragaman Hayati yang diselenggarakan oleh World Wildlife Fund (WWF).

Tutup pada 17 Agustus 2016


Whale Rider

Berlatar di pesisir timur Selandia Baru, film Whale Rider yang memperoleh nominasi Academy Award ini mengisahkan tentang suku Whangara, yang telah mendiami wilayah tersebut selama ratusan tahun. Sang tokoh utama, Pai, seorang gadis berusia 11 tahun, meyakini bahwa dirinya ditakdirkan menjadi kepala suku Whangara yang baru. Namun, menurut tradisi, pemimpin suku haruslah cucu pertama Paikea, sang Penunggang Paus, yang menunggangi seekor paus dari Hawaiki. Kakeknya, Koro, terikat oleh tradisi untuk memilih pemimpin laki-laki. Pai mencintai Koro melebihi siapa pun di dunia ini, tetapi ia harus melawannya dan juga tradisi ratusan tahun untuk memenuhi takdirnya.

Tutup pada 29 Juli 2016


Observations - Artscience On Screen di Marina Bay Sands

Observasi

Observations adalah program terkurasi yang menampilkan karya gambar bergerak dari para seniman yang mengeksplorasi cara dalam rangkaian penelitian ilmiah tertentu, atau metodologi pengamatan yang diambil dari sains, menghasilkan makna dalam praktik artistik. Melalui karya dari empat seniman internasional, program ini merayakan rasa keingintahuan dan kemampuan mata untuk melihat; cara mata seniman mungkin melihat dunia dengan berbeda. Dengan merujuk teknologi nano, alam, gelombang suara, dan materialitas dari tubuh kita sendiri, masing-masing karya berangkat dari titik yang berbeda-beda, dan menggunakan cara yang beragam untuk mengeksplorasi subjek mereka. Secara keseluruhan, karya ini mengingatkan kepada kita kuatnya potensi yang dimiliki oleh proses artistik dalam mengeksplorasi, melihat, dan memvisualkan dunia di sekitar kita. Penyelidikan mereka membawa kita dalam sebuah perjalanan visual dan bunyi yang menembus permukaan observasi sehari-hari serta membuka pintu ke dunia yang tak mungkin terlihat dengan cara lain. 

Menampilkan karya dari Semiconductor (Inggris), Ryoichi Kurokawa (Jepang), Skoltz_Kolgen (Kanada), dan Rohini Devasher (India).

Tutup pada 22 Februari 2016


Particle Fever - Artscience On Screen di Marina Bay Sands

Particle Fever

Particle Fever adalah film dokumenter produksi tahun 2013 yang mengajak kita untuk menyaksikan langsung momen paling signifikan dalam penemuan sains. Film dokumenter yang sangat memikat, dan terkadang begitu menyentuh ini mengikuti enam ilmuwan CERN selama proses persiapan dan peluncuran Large Hadron Collider, eksperimen sains terbesar sepanjang sejarah. Film ini mengikuti jatuh-bangun para ilmuwan, serta keraguan dan harapan mereka akan masa depan, di saat mereka berupaya melampaui batas pemahaman manusia akan dunia di sekitar kita. 

Tutup pada 14 Februari 2016