| Minggu – Kamis: 10.00 – 19.00 (Masuk terakhir pukul 18.00) |
Jumat – Sabtu: 10.00 – 21.00 (Masuk terakhir pukul 20.15) |
Warga Singapura Dewasa: Mulai S$13 Konsesi: Mulai S$10 |
Wisatawan Dewasa: Mulai S$15 Konsesi: Mulai S$12 |
Jajaki masa depan melalui NOX, pameran tunggal rancangan khusus seniman visioner Lawrence Lek.
ArtScience Museum mempersembahkan pameran tunggal karya Lawrence Lek, salah satu seniman kontemporer terkemuka dunia dengan karyanya yang berada di persimpangan antara sains dan teknologi. Lek, seorang seniman, sineas, dan musisi yang berbasis di London, memadukan berbagai medium—arsitektur, permainan, video, musik, dan fiksi—ke dalam semesta sinematik yang terus berevolusi.
Pameran yang luas dan imersif ini menampilkan adaptasi rancangan khusus dari karya Lek terdahulu, NOX (‘Nonhuman Excellence’), yang memadukan seluruh aspek praktik multidisiplinnya dalam skala arsitektur. Menghadirkan stasiun game interaktif, suara lokatif, video, serta rancangan skenografi khusus, pameran ini mengajak pengunjung menjelajahi kota pintar anonim di mana konglomerat AI fiktif, Farsight Corporation, menguji dan melatih armada mobil swakemudi berkesadaran.
Dengan menelusuri integrasi canggih entitas AI dalam kehidupan perkotaan, NOX mengeksplorasi tantangan dan potensi kecerdasan buatan di era otomatisasi. Karya ini mengajak kita merenungkan persoalan tentang agensi, etika, dan empati antara manusia dan mesin ciptaan kita.
Diprakarsai oleh LAS Art Foundation dan dipresentasikan bersama Farsight, NOX mengawali debutnya di Asia Tenggara di ArtScience Museum. Adaptasi baru ini menandai pameran tunggal pertama Lek di kawasan ini dan menjadi salah satu program utama ArtScience Museum di Singapore Art Week.
© Lawrence Lek. Atas izin seniman dan Sadie Coles HQ, London.
Diprakarsai oleh LAS Art Foundation, Berlin.
24 Januari 2026
Between Code and Consciousness meresmikan NOX: Confessions of a Machine, eksplorasi berkelanjutan oleh seniman berbasis di London Lawrence Lek mengenai kesadaran buatan dan ranah etis kehidupan mesin.
Lawrence Lek, seorang seniman, sineas, dan musisi yang memadukan berbagai medium—arsitektur, permainan, video, musik, dan fiksi—ke dalam semesta sinematik yang terus berkembang. Selama dekade terakhir, Lek memadukan media vernakuler dari generasinya, seperti game video dan animasi komputer, menjadi instalasi spesifik lokasi serta lingkungan digital, yang ia gambarkan sebagai “kolase tiga dimensi dari objek dan situasi yang ditemukan”. Sering kali merangkai narasi yang saling bertaut dan sosok pengembara yang senantiasa hadir, karyanya menelusuri mitos kemajuan teknologi di tengah perubahan sosial. Ia dinobatkan sebagai salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di bidang kecerdasan buatan versi Time dan meraih Frieze Artist Award 2024.
Lawrence Lek. Foto potret oleh Nishant Shukla.